Bulan suci yang dinanti-nantikan sebentar lagi akan
datang. Aku masih berada di rantau orang untuk melanjutkan sekolah, menimba
ilmu agar otakku terisi. Maklum di kampungku masih pedesaan sehingga di sana
cuma ada Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Sekarang aku sudah kelas
tiga SMA. Liburan panjang telah usai. Sebenarnya aku ingin berkumpul dengan
keluarga untuk menyambut bulan puasa tahun ini. Tapi apa boleh dikata, sekolah
adalah tugasku.
Hari itu
adalah hari kepergianku, Ibu hanya bisa melepas kepergianku di depan pintu. Mata Ibu berkaca-kaca, aku takut
kaca di mata Ibu itu pecah. Setelah mencium tangan Ibu aku pamit dan secepatnya
melangkahkan kaki untuk pergi, karena aku nggak sanggup melihat air mata Ibu.
Sungguh aku nggak sanggup. Lambaian tangan dan sejumput doa pasti selalu
terucap di mulut Ibu.
Tinggallah Ibu seorang diri di rumah, karena kakakku
yang satu-satunya telah berkeluarga. Kakakku itu adalah perempuan. Mereka telah
memiliki rumah sendiri yang tak jauh dari rumahku. Perkenalkan aku adalah
Hendri Setiawan. Kata Ibu aku lahir menjadi anak yatim setelah berumur empat
bulan. Ayah meninggalkan kami selamanya karena tragedi kecelakaan di Medan.
Ayah bekerja sebagai wartawan sehingga ia harus mengelilingi nusantara.
Pekerjaan ini lah yang merenggut Ayah dari kami. Pekerjaan Ayah ini lah yang
membuat aku mendapatkan gelar anak yatim. Tapi aku bangga dengan Ayah, aku
bangga dengannya karena Ayah mau membiayai Ibu kuliah, sebelum Ayah pergi untuk
selamanya. Ayah memang berpikir jauh ke depan. Mungkin ia merasakan firasat itu
beberapa tahun sebelum terjadi kecelakaan.
Sekarang apa yang diinginkan Ayah telah tercapai.
Ibu telah menjadi PNS, bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia disebuah Sekolah
Dasar Negeri. Sebenarnya aku berat meninggalkan Ibu seorang diri di rumah.
Tapi, itu tadi. Tugasku adalah sekolah. Aku tak mau mengecewakan Ibu, juga tak
mau mengecewakan Ayah karena aku tahu Ayah pasti tersenyum melihatku di surga
kalau aku dapat membahagiakan Ibu. Itu lah yang membuat aku semangat selama
ini. Dulu aku pernah menyarankan Ibu untuk menikah lagi, tapi Ibu tidak mau dan
memilih setia kepada Ayah. Bukan aku nggak sayang Ayah, melainkan kasian
melihat Ibu kesepian. Aku bertambah bangga kepada Ibu karena kesetiaannya.
* * *
Seperti apa yah wajah asli Ayah? Pertanyaan itu
selalu muncul dalam pikiranku. Aku tak pernah melihat wajah Ayah yang asli,
hanya saja dari foto yang diberikan Ibu. Aku pernah memimpikan Ayah, tapi dalam
mimpi itu Ayah hanya membelakangiku hingga membuat aku bertambah penasaran.
Dalam mimpi itu Ayah berpesan agar aku menjaga Ibu dan harus menjadi anak yang
shaleh.
Sudah
beberapa bulan aku di rantau. Entah mengapa aku sangat merindukan Ibu. Tapi, apa
yang harus aku lakukan? Pulang kampung hanya setahun sekali karena harus irit
biaya. Aku hanya bisa melihat foto Ibu dan Ayah. Mataku berkaca-kaca melihat
foto ibu. “Tuhan, jagalah Ibuku. Lindungilah Ibuku. Limpahkan rahmat pada
ibuku. Amin.” Doaku dalam hati.
Hari ini aku pergi sekolah seperti biasanya.
Menenteng tas dan berjalan kaki menuju sekolah. Aku punya sahabat cewek,
namanya Ulfa Sudibyo. Nama panggilannya Ulfa dan dia asli orang sini. Pagi ini Ulfa termenung duduk di dalam kelas.
Raut mukanya lain sekali hari ini. Aku heran, tidak biasa-biasanya Ulfa seperti
ini. Sifat biasanya selalu ceria.
“Pagi Fa, kok murung? Hayo, lagi putus cinta ya?
Atau mungkin lagi galau ya?” aku lansung nyerocos seperti kareta api yang tak
pakai rem. “Pagi JUGA!!!” katanya dengan nada ketus. “Mmmm, cerita lah Fa, aku
kan sahabatmu. Dulukan kita pernah berjanji, diantara persahabatan kita tak ada
yang harus ditutup-tutupi.” Aku memulainya dengan nada memelas. Mungkin karena
nggak sanggup melihat wajahku yang manis imut menggemaskan(siapa lagi kalau
bukan aku yang memuji diri sendiri), Ulfa mulai terbuai. “Ya udah, aku akan
menceritakannya nanti, setelah pulang sekolah,” jawabnya. “Oke deh. Aku tunggu
ya” kataku dengan suara riang menghibur.
Di sekolah pelajaran lancar seperti biasa. Aku dan
Ulfa akan bertemu di taman kota. Bel pulang telah berbunyi. Aku lansung menuju
taman kota sehabis piket kelas. Sesampainya di taman, rupanya Ulfa telah
menunggu. Aku kira dia tidak datang(seperti biasa!). Tapi, kali ini dia memang
datang. Raut wajah Ulfa seperti di sekolah tadi, murung tak tahu pasal(pasal ke
berapa ya? hehehe).
“Hai Fa, kok murung lagi sih?” tanyaku sambil duduk
di samping dia. “Kok diam, katanya mau cerita?” aku mulai kecewa, karena
pertanyaanku tak didengar alias dicuekin. “Orang tuaku ribut lagi ni Hen, aku
capek dengan semua ini,” Ulfa mulai bercerita. “Sudah beberapa minggu ini
mereka bertengkar. Mereka tak pernah memikirkan aku. Aku yang sebagai anak
merasa tak sanggup lagi. Setiap hari Hen, sumpah aku capek. Mending aku nggak
punya orang tua kalau seperti ini.” Lanjut ceritanya. Matanya bening berembun
seperti pagi. Air mata mulai menetes.
“Eh, kamu nggak boleh ngomong seperti itu. Lihat
aku! Aku telah merasakan sakitnya tidak memiliki Ayah. Tolong Fa, jangan bicara
seperti itu lagi.” Aku juga mulai terharu. Sekarang berbalik, bukan Ulfa yang
jadi curhat tapi aku. “Tapi apa yang harus aku lakukan Hen?” suara Ulfa
melengking. “Temui kedua orang tuamu. Ajak mereka bicara. Cari jalan solusinya
bersama-sama dengan kepala dingin.” Saranku kepada Ulfa dan menenangkannya.
“Baiklah, aku akan mencoba saran yang kamu beri.” Suara Ulfa melembut.
Kami berdua pulang ke rumah masing-masing setelah
menyelesaikan masalah Ulfa. Aku ingin dia bahagia, aku tak ingin dia merasakan
seperti apa yang aku rasakan yaitu tak memiliki seorang Ayah.
*
* *
Semburat jingga menghiasi bumi.
Suara adzan maghrib dari masjid terdengar syahdu berirama. Burung-burung
waletpun mulai terbang pulang ke sarangnya. Kalau senja seperti ini, dulu
sewaktu aku masih kecil Ibu biasanya membimbing aku untuk shalat maghrib. Tapi
sekarang lain, aku sudah besar dan sekarang Ibu tak ada di sampingku. Aku
shalat sendirian di kos ini. Beginilah nasib anak kos.
Malam ini aku tidur cepat sekali,
mungkin karena kecapean memikirkan Ibu dan Ayah, dan belum lagi maslah Ulfa.
Aku malam ini bermimpi lagi, tapi mimpinya lain. Ayah dan Ibu datang kepadaku
dengan memakai baju putih bersih bercahaya. Ayah dan Ibu mendatangiku di taman,
taman ini penuh bunga. Aneh, taman ini bukan seperti taman kota. Taman kota
udaranya panas sekali, tapi taman ini udaranya sejuuuuk penuh dengan bunga yang
berwarna-warni.
Mereka berdua berjalan bergandengan
tangan, tersenyum melihatku. Terlihat di wajah mereka tanpa beban. Kali ini
Ayah tidak membelakangiku lagi, wajah Ayah menawan sekali lebih ganteng dari
foto yang dikasih Ibu. Ibu. Ibu lain lagi, mukanya berseri. Ibu memang cantik
tapi kali ini mukanya lebih cantik sangat bercahaya. Ibu tersenyum kepadaku.
Senyumnya maniiiiis.
“Ibu. Ibu datang bersama Ayah, sosok
yang selama ini aku rindukan.” Aku berkata kepada Ibu sambil menatap wajah
keduanya. “Iya sayang. Ayah datang untuk menjemput Ibu. Ayah datang ingin
membawa Ibu tinggal di taman ini.” Ibu berkata sambil membentangkan tangannya.
“Kalau begitu, aku juga mau tinggal disini deh. Selalu bersama Ibu dan Ayah!”
Ibu tersenyum manis melihatku.
Menggeleng.
“Tidak, aku ingin bersama kalian
berdua. Aku nggak mau diberi gelar anak yatim lagi!” aku mulai terisak.
Ibu duduk di sampingku. Mengelus rambutku.
Lembut mencium keningku. Ayah hanya berdiri, tetapi senyumnya tetap menawan
tidak memudar sedikitpun.
“Kamu harus pergi sayang. Kamu tidak
boleh tinggal disini. Kamu harus melaksanakan tugasmu dulu. Perjalananmu masih
panjang,” Ibu menjelaskan sambil mengelus rambutku.
“TIDAK. AKU INGIN DISINI!!!”
membentak.
“Sayang. Ibu ingin melihat kamu
menyelesaikan tugasmu dengan baik dulu.” Ibu menasehatiku.
TELILILILILITTTTT….
TELILILITTTTT..(Bunyi Hp)
Pukul enam pagi aku bangun. Aku
dibangunkan oleh bunyi Hpku. Astaga aku lupa shalat shubuh lagi, tambah lagi
dosaku. Aku lihat Hpku berkedip-kedip lampunya, rupanya kakak perempuanku yang
menelepon. Pagi-pagi gini ada apa ya? Aku angkat telepon itu. Kata kakak Ibu
sakit, penyakit gulanya kambuh bahasa kerennya diabetes. Kata kakak lagi, aku
harus pulang sekarang juga. Nggak ada alasan apapun, aku harus pulang. Kakak
mengabarinya dengan suara parau. Aneh, kalau Ibu sakit biasanya nggak disuruh
pulang. Ya udah de, aku pulang saja. Dapat bonus bisa kumpul dengan keluarga
pikirku.
Di pagi rapat (kalau siang kan udah
bolong), aku pulang menaiki taxsi. Dalam perjalanan, aku mengingat mimpi
semalam. Mimpi yang aneh. Ibu tersenyum manis sekali. Senyum itu adalah senyum
Ibu yang paling manis.
Akhirnya aku sampai ke rumah. Tapi, aku kaget
melihat banyak orang di rumahku. Mereka semua memakai baju hitam dan
melantunkan ayat yasinan. Aku mulai merasa ada yang ganjil, tidak enak di hati.
Anak kakakku yang berumur lima tahun berlari menghampiriku. Tanpa beban dia
lansung berkata. “Kata Mama, Nenek sudah meninggal. Meninggal itu apa yah Om?”
Tanya anak itu dengan polos. Mendengar kata ‘meninggal’ itu, aku berdiri diam
seperti patung. Beberapa detik setelah itu aku mulai sadar.
“Ibu…!” suaraku gamang seperti cermin retak
berderak. Derak-derak itu sampai menembus hatiku, lukanya bersarang membuat aku
seperti sekarat. Air mata yang jatuh seperti garam menambah perih luka hatiku.
Aku melemparkan tas yang ku bawa, tidak meperdulikan siapapun lagi.
Berlari menerobos orang-orang yang
melayat. Ibu terbujur kaku tak bergerak di atas kasur. Kusingkap wajap Ibu dari
kain penutup mukanya. Ya Tuhan, wajahnya seperti mimpiku semalam. Senyumnya
yang manis. Mukanya putih tak berdarah, putih seperti salju. Aku menangis,
meracau seperti kaset rusak, kaset yang tali pitanya berantakan.
Ya Tuhan, mengapa Engkau tambah lagi gelar padaku.
Aku tak mau gelar itu, aku mau Ibu. Sudah cukup gelar yatim yang Kau berikan
selama hidupku. Buliran air bening asin menetes dari mataku, membasuh luka di
hati. Luka itu malah bertambah perih.
Kakak perempuanku menasehatiku. “Dek, ikhlaskanlah
Ibu. Lihat Ibu! Dia tersenyum manis kepada kita, agar apa? Agar kita tidak
berlarut-larut menangisinya.” Suaranya pelan tapi dalam, sambil mengusap ingus
yang ikut-ikutan bersedih. Kakakku memang lebih tabah dari pada aku. Tapi
mukanya juga kusut.
Akhirnya Ibu
dimakamkan di samping Ayah. Sesuai apa yang diamanahkan Ibu dulu. Mereka berdua
sekarang telah bersanding di sana. Bersanding di pelaminan surga, dikipas oleh
bidadari. Sekarang cinta mereka telah abadi, tumbuh di dalam surga. Tersenyum
menyaksikan anak-anaknya dilayar tancap, alat Tuhan yang lebih canggih dari
pada manusia. Aku menitikkan air mata rasa bangga kepada Ibu, untuk senyum
manis terakhirnya dan kesetiaannya kepada Ayah. Ibu, Ayah, kalian berdua akan
selalu hidup di dilam hatiku.
I
Love You Mam and Dad…