Hiks,
Bagaimana dengan Agama Islamku ?
Assalamualaikum.wr.wb
Bismillahirrohmanirrohim. Dengan
Bismillah, dengan menyebut nama Allah seluruh pekerjaan di muka bumi ini seharusnya
dimulai. Semoga diawali dengan mengingat Allah SWT, artikel ini dapat diridhohi-Nya
dan juga dapat bermanfaat bagi pembaca.
Berbicara tentang mencintai
Rasulullah, tentu saja kita harus juga mencatai ajaran yang telah
disampaikannya. Jangan sampai mengatakan cinta kepada Rasulullah, tapi ukhuwah
islamiyah yang ada di dalam diri kita seperti debu. Hanya datang angin
sepoi-sepoi berhembus saja, hilang tersapu bersih. Karena Nabi selalu mengajarkan
kuatkan niat, bulatkan tekad dan pertebal iman. Ajaran yang telah disampaikan
oleh Rasulullah adalah ajaran agama islam.
Islam. Yah, islam adalah agama
penyempurna, agama yang telah diridhoi oleh Allah SWT, agama yang diberikan
kepada kekasih Allah nabi Muhammad SAW, serta agama yang tidak akan pernah
hilang di muka bumi sampai akhirat nanti.
Tapi,
Rasulullah SAW pernah bersabda sekaligus memperingatkan:
“Akan datang suatu masa di mana orang-orang lain
disekeliling kamu (umat islam) akan bersatu mengerubungi kamu seperti makanan
di atas meja hidangan” sahabat bertanya ‘Apakah jumlah kami sedikit pada saat
itu ya Rasul?’
Rasul menjawab:
“Tidak, bahkan kamu pada saat itu mayoritas, akan tetapi kamu seperti buih di
lautan. Susungguhnya Allah SWT telah mencabut rasa takut dari musuh-musuh
kalian, telah mencampakkan penyakit Al-wahan pada diri dan perasaan kalian”
Sahabat bertanya lagi ‘Apakah penyakit wahan itu ya Rasul?’
Nabi SAW menjawab: “Al-wahan adalah penyakit cinta
kepada dunia dan taku kepada mati”. Hadist ini adalah peringatan dari
Rasulullahb SAW untuk kita umat islam.
Marilah sekarang kita melihat di tengah-tengah
umat islam sekarang telah dibanjiri dengan kebudayaan dan peradaban yang
menjauhkan kita dari agama. Alangkah ironinya, alangkah menyedihkannya,
memilukan sekaligus memalukan. Umat yang mayoritas dipermain oleh yang
minoritas. Umat yang jumlahnya banyak di dunia tapi diombang-ambingkan oleh
mereka kaum yang kecil.
Benar apa yang telah diperingatkan oleh
Rasulullah, masa itu telah datang. Penyakit itu telah dicampakkan
ditengah-tengah kita. Penyakit Al-wahan telah tumbuh. Terlalu cinta kepada dunia dan terlalu takut
kepada mati. Matrealistis dan takut resiko. Takut mati dalam arti yang
sesungguhnya dan juga takut mati usahanya, takut mati prestasinya, jabatannya
serta takut mati semua perhiasan-perhiasan dunianya. Subahanallah.
Seandainya penyakit dan permasalahan ini akan
berlansung secara lama, apakah tidak mungkin islam akan tersapu dari negeri ini
? Apakah tidak mungkin islam akan tinggal namanya saja ? semua itu mungkin
terjadi jika penyakit wahan masih mengakar erat di dalam diri kita. Jika
penyakit memalukan ini masih menggerogoti sel-sel darah dalam tubuh kita.
Solusinya adalah membunuh penyakit tersebut sampai ke akar-akarnya.
Alhamdulillah, kita tidak mengalami yang namaya
perang badar sehebat yang dialami oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Namun,
pada zaman sekarang ini perang yang kita hadapi tidak kalah ngerinya dengan
perang badar, tidak kalah sadisnya dengan perang uhud dan juga tidak kurang
dasyatnya dengan perang hondaq. Memang bukan anak panah runcing yang kita
hadapi, memang bukan pedang tajam berkilau yang kita mainkan serta bukan ujung
tombak besi yang kita takuti. Melainkan perang aqidah, perang pemikiran, perang
ideologi dan juga perang mempertahankan keyakinan. Yang jikalau kita kalah pada
saat sekarang ini akan berimbas kepada anak cucu-cucu kita, akan terpelanting kepada
generasi-generasi kita. Apakah meraka nantinya masih memiliki agama? Wallah
a’lam bi ash-shawab.
Oleh sebab itu, dalam peringatan maulid Nabi
Muhammad SAW 1434H ini marilah kita tumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah di
dalam diri kita. Merawat dan memupuknya sehingga ukhuwa islamiyah kita berbuah
manis dan lebat. Sebagai generasi muda ditangan kita lah agama ini
diperjuangkan. Sangat mungkin sekali islam akan jaya kembali seperti masa-masa
para sahabat dan khalifah.
kemungkinan akan selalu terjadi. Karena dalam hari
selalu ada kemungkinan selama kita masih mau berusaha. Kita pasti bisa melawan
kebiadaban ini, selama ambisi kita untuk menang masih seperti malam yang tidak
pernah lelah bergantian dengan siang. Maka asa itu akan selalu ada, selama kita
masih berjuang di jalan-Nya, selama kita masih memegang kitab suci al-quran
untuk pedoman, selama Nabi Muhammad SAW masih menjadi idola dan tauladan,
selama kita masih ingin meraih surga-Nya dan selama doa masih dipanjatkan untuk
Nya. Maka asa itu tidak akan hilang.
Mari kita membangun semangat baru, menentang dan
melawan gojolak diri yang ingin hidup bebas sperti mereka (baca orang-orang
barat). Berjuang malawan zionis. Bertekad di dalam diri, berjanji di dalam hati
akan selalu menumbuhkan ukhuwah islamiyah di dalam diri sendiri serta di dalam
pergaulan. Allahuakbar.
Wassalamualaikum.wr.wb.