Jumat, 10 Januari 2014

Senyum Manis Terakhir Ibu

Bulan suci yang dinanti-nantikan sebentar lagi akan datang. Aku masih berada di rantau orang untuk melanjutkan sekolah, menimba ilmu agar otakku terisi. Maklum di kampungku masih pedesaan sehingga di sana cuma ada Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Sekarang aku sudah kelas tiga SMA. Liburan panjang telah usai. Sebenarnya aku ingin berkumpul dengan keluarga untuk menyambut bulan puasa tahun ini. Tapi apa boleh dikata, sekolah adalah tugasku.
 Hari itu adalah hari kepergianku, Ibu hanya bisa melepas kepergianku di  depan pintu. Mata Ibu berkaca-kaca, aku takut kaca di mata Ibu itu pecah. Setelah mencium tangan Ibu aku pamit dan secepatnya melangkahkan kaki untuk pergi, karena aku nggak sanggup melihat air mata Ibu. Sungguh aku nggak sanggup. Lambaian tangan dan sejumput doa pasti selalu terucap di mulut Ibu.
Tinggallah Ibu seorang diri di rumah, karena kakakku yang satu-satunya telah berkeluarga. Kakakku itu adalah perempuan. Mereka telah memiliki rumah sendiri yang tak jauh dari rumahku. Perkenalkan aku adalah Hendri Setiawan. Kata Ibu aku lahir menjadi anak yatim setelah berumur empat bulan. Ayah meninggalkan kami selamanya karena tragedi kecelakaan di Medan. Ayah bekerja sebagai wartawan sehingga ia harus mengelilingi nusantara. Pekerjaan ini lah yang merenggut Ayah dari kami. Pekerjaan Ayah ini lah yang membuat aku mendapatkan gelar anak yatim. Tapi aku bangga dengan Ayah, aku bangga dengannya karena Ayah mau membiayai Ibu kuliah, sebelum Ayah pergi untuk selamanya. Ayah memang berpikir jauh ke depan. Mungkin ia merasakan firasat itu beberapa tahun sebelum terjadi kecelakaan.
Sekarang apa yang diinginkan Ayah telah tercapai. Ibu telah menjadi PNS, bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia disebuah Sekolah Dasar Negeri. Sebenarnya aku berat meninggalkan Ibu seorang diri di rumah. Tapi, itu tadi. Tugasku adalah sekolah. Aku tak mau mengecewakan Ibu, juga tak mau mengecewakan Ayah karena aku tahu Ayah pasti tersenyum melihatku di surga kalau aku dapat membahagiakan Ibu. Itu lah yang membuat aku semangat selama ini. Dulu aku pernah menyarankan Ibu untuk menikah lagi, tapi Ibu tidak mau dan memilih setia kepada Ayah. Bukan aku nggak sayang Ayah, melainkan kasian melihat Ibu kesepian. Aku bertambah bangga kepada Ibu karena kesetiaannya.                        
* * *

Seperti apa yah wajah asli Ayah? Pertanyaan itu selalu muncul dalam pikiranku. Aku tak pernah melihat wajah Ayah yang asli, hanya saja dari foto yang diberikan Ibu. Aku pernah memimpikan Ayah, tapi dalam mimpi itu Ayah hanya membelakangiku hingga membuat aku bertambah penasaran. Dalam mimpi itu Ayah berpesan agar aku menjaga Ibu dan harus menjadi anak yang shaleh.
 Sudah beberapa bulan aku di rantau. Entah mengapa aku sangat merindukan Ibu. Tapi, apa yang harus aku lakukan? Pulang kampung hanya setahun sekali karena harus irit biaya. Aku hanya bisa melihat foto Ibu dan Ayah. Mataku berkaca-kaca melihat foto ibu. “Tuhan, jagalah Ibuku. Lindungilah Ibuku. Limpahkan rahmat pada ibuku. Amin.” Doaku dalam hati.
Hari ini aku pergi sekolah seperti biasanya. Menenteng tas dan berjalan kaki menuju sekolah. Aku punya sahabat cewek, namanya Ulfa Sudibyo. Nama panggilannya Ulfa dan dia asli orang sini.  Pagi ini Ulfa termenung duduk di dalam kelas. Raut mukanya lain sekali hari ini. Aku heran, tidak biasa-biasanya Ulfa seperti ini. Sifat biasanya selalu ceria.
“Pagi Fa, kok murung? Hayo, lagi putus cinta ya? Atau mungkin lagi galau ya?” aku lansung nyerocos seperti kareta api yang tak pakai rem. “Pagi JUGA!!!” katanya dengan nada ketus. “Mmmm, cerita lah Fa, aku kan sahabatmu. Dulukan kita pernah berjanji, diantara persahabatan kita tak ada yang harus ditutup-tutupi.” Aku memulainya dengan nada memelas. Mungkin karena nggak sanggup melihat wajahku yang manis imut menggemaskan(siapa lagi kalau bukan aku yang memuji diri sendiri), Ulfa mulai terbuai. “Ya udah, aku akan menceritakannya nanti, setelah pulang sekolah,” jawabnya. “Oke deh. Aku tunggu ya” kataku dengan suara riang menghibur.
Di sekolah pelajaran lancar seperti biasa. Aku dan Ulfa akan bertemu di taman kota. Bel pulang telah berbunyi. Aku lansung menuju taman kota sehabis piket kelas. Sesampainya di taman, rupanya Ulfa telah menunggu. Aku kira dia tidak datang(seperti biasa!). Tapi, kali ini dia memang datang. Raut wajah Ulfa seperti di sekolah tadi, murung tak tahu pasal(pasal ke berapa ya? hehehe).
“Hai Fa, kok murung lagi sih?” tanyaku sambil duduk di samping dia. “Kok diam, katanya mau cerita?” aku mulai kecewa, karena pertanyaanku tak didengar alias dicuekin. “Orang tuaku ribut lagi ni Hen, aku capek dengan semua ini,” Ulfa mulai bercerita. “Sudah beberapa minggu ini mereka bertengkar. Mereka tak pernah memikirkan aku. Aku yang sebagai anak merasa tak sanggup lagi. Setiap hari Hen, sumpah aku capek. Mending aku nggak punya orang tua kalau seperti ini.” Lanjut ceritanya. Matanya bening berembun seperti pagi. Air mata mulai menetes.
“Eh, kamu nggak boleh ngomong seperti itu. Lihat aku! Aku telah merasakan sakitnya tidak memiliki Ayah. Tolong Fa, jangan bicara seperti itu lagi.” Aku juga mulai terharu. Sekarang berbalik, bukan Ulfa yang jadi curhat tapi aku. “Tapi apa yang harus aku lakukan Hen?” suara Ulfa melengking. “Temui kedua orang tuamu. Ajak mereka bicara. Cari jalan solusinya bersama-sama dengan kepala dingin.” Saranku kepada Ulfa dan menenangkannya. “Baiklah, aku akan mencoba saran yang kamu beri.” Suara Ulfa melembut.
Kami berdua pulang ke rumah masing-masing setelah menyelesaikan masalah Ulfa. Aku ingin dia bahagia, aku tak ingin dia merasakan seperti apa yang aku rasakan yaitu tak memiliki seorang Ayah.

* * *
            Semburat jingga menghiasi bumi. Suara adzan maghrib dari masjid terdengar syahdu berirama. Burung-burung waletpun mulai terbang pulang ke sarangnya. Kalau senja seperti ini, dulu sewaktu aku masih kecil Ibu biasanya membimbing aku untuk shalat maghrib. Tapi sekarang lain, aku sudah besar dan sekarang Ibu tak ada di sampingku. Aku shalat sendirian di kos ini. Beginilah nasib anak kos.
            Malam ini aku tidur cepat sekali, mungkin karena kecapean memikirkan Ibu dan Ayah, dan belum lagi maslah Ulfa. Aku malam ini bermimpi lagi, tapi mimpinya lain. Ayah dan Ibu datang kepadaku dengan memakai baju putih bersih bercahaya. Ayah dan Ibu mendatangiku di taman, taman ini penuh bunga. Aneh, taman ini bukan seperti taman kota. Taman kota udaranya panas sekali, tapi taman ini udaranya sejuuuuk penuh dengan bunga yang berwarna-warni.
            Mereka berdua berjalan bergandengan tangan, tersenyum melihatku. Terlihat di wajah mereka tanpa beban. Kali ini Ayah tidak membelakangiku lagi, wajah Ayah menawan sekali lebih ganteng dari foto yang dikasih Ibu. Ibu. Ibu lain lagi, mukanya berseri. Ibu memang cantik tapi kali ini mukanya lebih cantik sangat bercahaya. Ibu tersenyum kepadaku. Senyumnya maniiiiis.
            “Ibu. Ibu datang bersama Ayah, sosok yang selama ini aku rindukan.” Aku berkata kepada Ibu sambil menatap wajah keduanya. “Iya sayang. Ayah datang untuk menjemput Ibu. Ayah datang ingin membawa Ibu tinggal di taman ini.” Ibu berkata sambil membentangkan tangannya. “Kalau begitu, aku juga mau tinggal disini deh. Selalu bersama Ibu dan Ayah!”
            Ibu tersenyum manis melihatku. Menggeleng.
            “Tidak, aku ingin bersama kalian berdua. Aku nggak mau diberi gelar anak yatim lagi!” aku mulai terisak.
            Ibu duduk di sampingku. Mengelus rambutku. Lembut mencium keningku. Ayah hanya berdiri, tetapi senyumnya tetap menawan tidak memudar sedikitpun.
            “Kamu harus pergi sayang. Kamu tidak boleh tinggal disini. Kamu harus melaksanakan tugasmu dulu. Perjalananmu masih panjang,” Ibu menjelaskan sambil mengelus rambutku. 
            “TIDAK. AKU INGIN DISINI!!!” membentak.
            “Sayang. Ibu ingin melihat kamu menyelesaikan tugasmu dengan baik dulu.” Ibu menasehatiku.
            TELILILILILITTTTT….
            TELILILITTTTT..(Bunyi Hp)
            Pukul enam pagi aku bangun. Aku dibangunkan oleh bunyi Hpku. Astaga aku lupa shalat shubuh lagi, tambah lagi dosaku. Aku lihat Hpku berkedip-kedip lampunya, rupanya kakak perempuanku yang menelepon. Pagi-pagi gini ada apa ya? Aku angkat telepon itu. Kata kakak Ibu sakit, penyakit gulanya kambuh bahasa kerennya diabetes. Kata kakak lagi, aku harus pulang sekarang juga. Nggak ada alasan apapun, aku harus pulang. Kakak mengabarinya dengan suara parau. Aneh, kalau Ibu sakit biasanya nggak disuruh pulang. Ya udah de, aku pulang saja. Dapat bonus bisa kumpul dengan keluarga pikirku.
            Di pagi rapat (kalau siang kan udah bolong), aku pulang menaiki taxsi. Dalam perjalanan, aku mengingat mimpi semalam. Mimpi yang aneh. Ibu tersenyum manis sekali. Senyum itu adalah senyum Ibu yang paling manis.
Akhirnya aku sampai ke rumah. Tapi, aku kaget melihat banyak orang di rumahku. Mereka semua memakai baju hitam dan melantunkan ayat yasinan. Aku mulai merasa ada yang ganjil, tidak enak di hati. Anak kakakku yang berumur lima tahun berlari menghampiriku. Tanpa beban dia lansung berkata. “Kata Mama, Nenek sudah meninggal. Meninggal itu apa yah Om?” Tanya anak itu dengan polos. Mendengar kata ‘meninggal’ itu, aku berdiri diam seperti patung. Beberapa detik setelah itu aku mulai sadar.
“Ibu…!” suaraku gamang seperti cermin retak berderak. Derak-derak itu sampai menembus hatiku, lukanya bersarang membuat aku seperti sekarat. Air mata yang jatuh seperti garam menambah perih luka hatiku. Aku melemparkan tas yang ku bawa, tidak meperdulikan siapapun lagi. Berlari  menerobos orang-orang yang melayat. Ibu terbujur kaku tak bergerak di atas kasur. Kusingkap wajap Ibu dari kain penutup mukanya. Ya Tuhan, wajahnya seperti mimpiku semalam. Senyumnya yang manis. Mukanya putih tak berdarah, putih seperti salju. Aku menangis, meracau seperti kaset rusak, kaset yang tali pitanya berantakan.
Ya Tuhan, mengapa Engkau tambah lagi gelar padaku. Aku tak mau gelar itu, aku mau Ibu. Sudah cukup gelar yatim yang Kau berikan selama hidupku. Buliran air bening asin menetes dari mataku, membasuh luka di hati. Luka itu malah bertambah perih.
Kakak perempuanku menasehatiku. “Dek, ikhlaskanlah Ibu. Lihat Ibu! Dia tersenyum manis kepada kita, agar apa? Agar kita tidak berlarut-larut menangisinya.” Suaranya pelan tapi dalam, sambil mengusap ingus yang ikut-ikutan bersedih. Kakakku memang lebih tabah dari pada aku. Tapi mukanya juga kusut.
 Akhirnya Ibu dimakamkan di samping Ayah. Sesuai apa yang diamanahkan Ibu dulu. Mereka berdua sekarang telah bersanding di sana. Bersanding di pelaminan surga, dikipas oleh bidadari. Sekarang cinta mereka telah abadi, tumbuh di dalam surga. Tersenyum menyaksikan anak-anaknya dilayar tancap, alat Tuhan yang lebih canggih dari pada manusia. Aku menitikkan air mata rasa bangga kepada Ibu, untuk senyum manis terakhirnya dan kesetiaannya kepada Ayah. Ibu, Ayah, kalian berdua akan selalu hidup di dilam hatiku.

I Love You Mam and Dad…

Virusku..

Virus. Begitulah jika aku memanggilnya. Sebenarnya itu bukan nama aslinya, tapi panggilan sayangku untuknya. Nggak ada alasan yang jelas untuk panggilan itu. Suka sajaa.  Dia yang pertama kali menyuntikkan virus cinta di dalam tubuhku. Ciyeee.. sok puitis

Gadis aneh yang tak bisa dibaca fikirannya. Seorang mentalis hebatpun kurasa masih susah menembusnya, karena orangnya clumsy, setidaknya itu menurutku. Yang bikin anehnya menurutku dia itu mau dengaku tapi seenaknya. Selama ini nggak ada lo yang mau. Contoh, sms tiba-tiba. Setelah itu nggak ada kabar selama seminggu. Tuhhh kan, buat bingung saja. Oh Tuhan, ampun.

Kadang malas dengarin curhatannya. Ngeluh terus. Bayangkan saja, tugas dari kampus yang setumpuk ditambah lagi amanah organisasi yang sebukit a plus curhatnya dia. Biuhhh, otakku seperti tanggul jebol, mau pecah. Yang namanya ibu-ibu, selalu pandai merayu di pasar, nah yang ini memang ahli. Finally,dia akan sukses membuatku jatuh kasihan padanya.

Kadang aku pengen bilang pada dia untuk curhat ketemannya yang lain. Jelas ini tak pernah terucap. Pertama, aku tak pernah setega itu. Kedua, aku sayang padanya. Ketiga, semakin lama kusadari, rasa sayangku padanya lebih besar dari sekedar kesal. Aku terlalu sayang kepadanya. Sayang yang teramat sayang.

Sebenarnya aku dulu tidak punya perasaan apa-apa padanya. Namun itu dulu kawan, kalau sekarang ceritannya lain. Dia adalah gadis yang smart, dari SD juara terussss.. Gila banget otaknya. Eittss, jangan salah aku juga pintar, walaupun itu menurutku. Mmmm, tapi melihat nilai raporku sewaktu SMP sampai sekarang aku termasuk lima orang yang tidak boleh diremehkan di kelas, tapiii kalau di SD mah anggap saja aku nggak ada. Terlalu introvert sekali. So, cocoklah jika aku disandingkan dengannya, so pasti anak kami akan an exceptionally intelligent person all. Amin.

Continue…